Anti Corruption Film Festival

Follow us :
Blog

Movie Day ACFFEST 2026 : Jawa Timur

IMG

Cerita di Layar Menggerakkan Kesadaran Antikorupsi 

Di Jawa Timur, kampanye antikorupsi bergerak dengan cara yang tidak biasa, menyusup ke ruang-ruang publik, dari alun-alun hingga desa, dari ruang komunitas hingga layar tancap di lapangan terbuka. Melalui Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) Movie Day 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan pendekatan yang lebih dekat, membumi, dan menyentuh realitas masyarakat sehari-hari.

Rangkaian kegiatan digelar di tiga titik utama: Ponorogo, Tulungagung, dan Pacitan. Di setiap lokasi, film bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga pemantik dialog. Masyarakat diajak memahami korupsi bukan sebagai isu jauh, melainkan sesuatu yang bisa tumbuh dari kebiasaan kecil jika dibiarkan.

Pendekatan ini terasa kuat saat layar tancap digelar di Desa Watubonang, Ponorogo. Ratusan warga berkumpul, menyaksikan film-film pendek bertema integritas di ruang terbuka. Bagi banyak dari mereka, ini bukan sekadar hiburan malam, tapi pengalaman kolektif yang membuka perspektif baru.

Di sisi lain, KPK melihat film sebagai medium yang mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda. Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, menekankan bahwa kekuatan film terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan secara lebih natural.

“Film dapat menjadi media yang menarik dan efektif untuk menyebarkan semangat antikorupsi karena jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat terserap dengan baik,” jelasnya.

Tak hanya soal moral, diskusi yang hadir dalam ACFFEST di Jawa Timur juga mulai menyentuh akar persoalan yang lebih kompleks. Sutradara Gelora Yudhaswara mengingatkan bahwa korupsi tidak hanya lahir dari individu, tetapi juga dari sistem yang memberi celah.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya nilai moral, tetapi juga sistem yang bisa mempengaruhi integritas seseorang dari bawah hingga atas,” ungkapnya.

IMG

Epi Handayani, koordinator program ACFFEST, menyebut KPK setiap tahun mengajak pegiat film di seluruh Indonesia untuk berkreasi serta mengambil bagian dalam pencegahan korupsi. Lembaga antirasuah itu ingin menyebarkan nilai antikorupsi melalui media film. Melalui kombinasi pemutaran film, diskusi, hingga pertunjukan seni lokal, ACFFEST di Jawa Timur membangun pengalaman yang utuh, menghubungkan cerita di layar dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Dari kota hingga desa, dari generasi muda hingga warga umum, semua diajak menjadi bagian dari percakapan yang sama.

Di sini, film tidak berhenti sebagai cerita. Ia menjadi alat refleksi, ruang belajar, sekaligus pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat—dari cara berpikir, bersikap, hingga berani mengambil pilihan yang jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan Blog

Blog Terkait