Sinema Jadi Medium Perlawanan
Komitmen untuk membangun kesadaran antikorupsi terus diperluas melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Lewat rangkaian Movie Day Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) menghadirkan ruang edukasi berbasis sinema di Provinsi Riau pada 17–19 April 2026.
Berlangsung di tiga wilayah, Kota Pekanbaru, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Kampar, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman publik terhadap isu korupsi melalui pendekatan yang lebih reflektif dan kontekstual. Tidak hanya menghadirkan pemutaran film, ACFFEST juga membuka ruang dialog melalui diskusi interaktif serta pertunjukan seni yang melibatkan komunitas lokal.
Mengusung tema “Dari Lensa, Integritas Terjaga”, ACFFEST di Riau menempatkan film sebagai medium yang mampu menjembatani pesan dengan realitas sosial. Sejumlah film pendek seperti Pirates of Sepuluh Ribuan, Dompet Imajinasi, Jimpitan, dan Balik Nama diputar untuk mengangkat berbagai bentuk praktik ketidakjujuran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Koordinator Program ACFFEST, Epi Handayani, menegaskan bahwa pendekatan berbasis sinema mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih kuat.
“Pendekatan sinema menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan realitas, sekaligus mendorong kesadaran kritis terhadap praktik korupsi di sekitar kita,” jelasnya.

Keterlibatan komunitas lokal seperti Komunitas Film Pekanbaru (Komfek) juga menjadi elemen penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat ekosistem kreatif di daerah, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam gerakan antikorupsi.
Selain pemutaran dan diskusi, kegiatan ini turut dimeriahkan dengan penampilan seni lokal yang memperkaya pengalaman audiens. Pendekatan ini menjadikan ACFFEST bukan sekadar forum edukasi, tetapi juga ruang ekspresi yang menghubungkan pesan integritas dengan konteks budaya setempat.
Melalui pelaksanaan di Riau, ACFFEST Movie Day 2026 menegaskan bahwa kampanye antikorupsi tidak harus selalu disampaikan secara formal. Dengan pendekatan yang lebih membumi—melalui cerita, visual, dan ruang dialog, pesan tentang integritas dapat hadir lebih dekat, relevan, dan berkesan.
Lebih dari sekadar menonton, publik diajak untuk memahami, merefleksikan, dan pada akhirnya mengambil peran dalam membangun budaya antikorupsi di kehidupan sehari-hari.

