ACFFEST Movie Day 2026 Sambangi Lima Titik di Sulawesi Barat
Bagaimana cara membicarakan korupsi kepada generasi muda tanpa terdengar menggurui? Di Sulawesi Barat, jawabannya hadir melalui layar film.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama komunitas film lokal Pitu Sinema menghadirkan rangkaian ACFFEST Movie Day 2026 di lima titik berbeda di Sulawesi Barat pada 20–25 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-12 dan terus menggunakan film sebagai medium untuk menyebarkan nilai-nilai integritas kepada masyarakat.
Selama lima hari, ACFFEST menyambangi Mamuju, Majene, Polewali Mandar, hingga Mamasa, menghadirkan pemutaran film pendek, diskusi publik, coaching clinic, hingga ruang temu antara sineas, pelajar, komunitas kreatif, dan masyarakat umum.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK sekaligus Festival Director ACFFEST 2026, Amir Arief, menegaskan bahwa film memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Film dapat menjadi media yang menarik dan efektif untuk menyebarkan semangat antikorupsi karena jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat, sehingga pesan yang ingin disampaikan KPK dapat tersampaikan dan terserap,” ujar Amir.
Membawa Isu Integritas Lebih Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Bagi banyak anak muda, isu korupsi sering kali dipersepsikan sebagai persoalan besar yang hanya terjadi di lingkaran elite dan jauh dari kehidupan mereka. Padahal, perilaku tidak jujur, penyalahgunaan kepercayaan, hingga praktik-praktik yang dianggap lumrah di lingkungan sekitar merupakan bagian dari persoalan integritas yang sama.
Melalui pemutaran film dan diskusi yang menyertainya, ACFFEST mengajak peserta melihat korupsi dari sudut pandang yang lebih dekat dan relevan dengan keseharian.
Sutradara film sekaligus narasumber diskusi ACFFEST di Sulawesi Barat, Ikhwan Wahid, menilai film memiliki kekuatan untuk menjembatani isu integritas dengan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
“Ketika isu integritas dibungkus menggunakan bahasa lokal, latar yang akrab, atau konflik yang dekat dengan keseharian mereka, maka pesannya tidak lagi terasa seperti ceramah hukum yang kaku dan menggurui,” ujar Ikhwan.
Menurutnya, pendekatan semacam ini penting agar generasi muda mampu melihat bahwa integritas tidak hanya berkaitan dengan kasus-kasus besar yang muncul di media, tetapi juga dengan pilihan-pilihan kecil yang mereka hadapi setiap hari.
Selain menjadi ruang edukasi antikorupsi, ACFFEST juga membuka peluang bagi tumbuhnya ekosistem perfilman di daerah. Melalui diskusi, coaching clinic, dan interaksi langsung dengan para praktisi film, kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan kreator muda yang tertarik pada dunia sinema.
Membangun Ekosistem Film dan Ruang Belajar bagi Generasi Muda
Direktur Pitu Sinema, Sadly Asis, menyebut kolaborasi ini sebagai upaya untuk memastikan pesan antikorupsi menjangkau masyarakat secara lebih inklusif melalui kekuatan cerita.
“Kami percaya film adalah medium yang sangat kuat untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian. Melalui roadshow ini, kami ingin memastikan pesan antikorupsi menjangkau hingga tingkat kabupaten secara inklusif,” ujarnya.
Antusiasme peserta juga terlihat di titik penutup roadshow yang digelar di SMKN 1 Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Sekolah tersebut dipilih karena menjadi satu-satunya SMK di Sulawesi Barat yang memiliki jurusan Produksi Film.
Filmmaker Pitu Sinema, Aswad Atjo, berharap para pelajar dapat memanfaatkan kemampuan bercerita melalui film untuk menyuarakan nilai-nilai integritas di masa depan.
“Harapannya, para lulusan nantinya dapat menjadi pionir dalam menyosialisasikan nilai-nilai antikorupsi melalui karya-karya film,” jelas Aswad.

Dari Lensa, Integritas Terjaga
Rangkaian Movie Day juga menjadi bagian dari kampanye kompetisi film pendek ACFFEST 2026 bertajuk “Dari Lensa, Integritas Terjaga.” Melalui kompetisi ini, KPK mengajak masyarakat untuk melihat film antikorupsi dari perspektif yang lebih luas.
Koordinator Program ACFFEST Movie Day 2026, Epi Handayani, menjelaskan bahwa ACFFEST tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang belajar dan distribusi karya yang mendorong lahirnya perspektif baru mengenai isu integritas.

“Selama ini publik sering memaknai film antikorupsi sebagai cerita tentang tindakan korupsi secara langsung. Padahal film bisa menjadi ruang untuk menularkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, kemandirian, keberanian, dan keadilan, terutama kepada generasi muda sebagai agent of change,” tutur Epi.
Melalui rangkaian ACFFEST Movie Day 2026 di Sulawesi Barat, KPK berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berani mengambil peran sebagai kreator dan agen perubahan. Sebab, upaya membangun budaya antikorupsi tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau meja birokrasi, kadang ia berawal dari sebuah cerita yang ditonton bersama, lalu menggerakkan seseorang untuk memilih tetap jujur dalam kehidupan sehari-hari.
